Design Thinking untuk kehidupan sehari-hari, bisakah?

Beberapa bulan belakangan ini aku merasa kesusahan untuk mengontrol diriku sendiri dalam bermain handphone, lebih tepatnya sosial media. Perasaan fomo — fear of missing out, atau takut ketinggalan sesuatu selalu menghantui. Coba langsung pakai cara ekstrim dengan menguninstall hampir semua sosial media yang menggangguku selama 1 minggu, hasilnya nihil. Mengingat salah satu source terbesarku dalam belajar design adalah melalui social media, rasanya gatel banget pengen install lagi, dan sekalinya buka, aku merasa harus balas dendam dengan berlama-lama buka sosial media.

Selama seminggu juga aku cari cara gimana caranya biar bisa lepas dari bad habit ini tapi secara perlahan. Kebetulan selama 1 bulan kemarin, aku sedang masa adaptasi di lingkungan magangku. Entah adaptasi dengan sesama team, dengan mentor, ataupun pengenalan dasar tentang project yang akan aku dan tim garap. Termasuk pengenalan dan belajar design thinking, yang sebetulnya sudah lama aku tau tentang ini. Tapi baru aku sadari akan penggunaannya, karena bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Yang biasa kita tahu, design thinking sangat umum dipakai dalam proses design untuk pendekatan masalah user dan mencari solusinya. Dari beberapa sumber yang aku pelajari, bisa aku simpulkan bahwa design thinking sebetulnya bukan hanya sebuah metode design, tapi juga mindset. Karena design thinking ini pendekatannya fokus kepada cara berpikir terhadap pemecahan masalah berdasarkan kebutuhan. Apapun masalahnya. Kenapa berdasarkan kebutuhan? Karena dengan mengetahui apa yang kita butuhkan, kita bisa menganalisis apa yang sedang terjadi, untuk mencari solusi agar kebutuhan tersebut dapat terpenuhi.

Aku coba terapkan proses ini ke dalam masalahku. Tapi jika mengikuti 5 tahapan design thinking — empathize-define-ideate-prototyping-testing yang bertebaran, rasanya terlalu mengarah ke proses design. Jadi, aku coba sederhakan menjadi 4 tahapan, tapi intinya sama.

Design thinking untuk kehidupan sehari-hari

Step 1: Learn and Think🧠

Sama seperti halnya research pada proses desain, pada step ini kita harus pahami dulu apa background masalah kita, hal apa yang ingin kita capai, dan apa saja masalah yang dihadapi untuk mencapai hal tersebut. Mari kita pecah satu-persatu dari hal-hal tadi.

Background masalah: merasa kecanduan bermain sosial media sehingga mengganggu produktifitas sehari-hari.

Hal yang ingin dicapai: ingin mengurangi frekuensi penggunaan handphone agar meningkatnya produktifitas sehari-hari.

Masalah yang dihadapi:

  • Banyaknya notifikasi yang masuk membuat aku mudah ke-trigger untuk membuka handphone
  • Perasaan fomo, takut ketinggalan akan hal sesuatu yang terus menghantui
  • Merasa sosial media adalah source paling banyak untuk belajar tentang design

Step 2: Make and Build💡

Setelah kita tahu permasalahan apa yang kita hadapai, tulis dan jabarkan solusi-solusi yang bisa kita kerjakan. Contoh solusi yang aku pikirkan:

  • Menjauhkan posisi handphoneku dengan diriku sendiri saat sedang bekerja. Misalnya aku di kamar, handphone ku taro di ruang tengah.
  • Jika sudah mulai bosan atau jenuh dengan pekerjaan, aku coba mengalihkan dengan membaca artikel atau buku, bermain gitar, atau mengulik desain — yang jelas bukan ngulik desain untuk pekerjaan. So far, cara ini lumayan efektif untuk aku.
  • Jika handphone terpaksa harus berdekatan denganku (misalnya harus dicas), aku coba mengaktifkan mode Don’t Disturb dan membalikkan posisi handphone supaya fokusku tidak teralihkan
  • Men-track penggunaan handphone setiap hari. Di Android, ada fitur untuk mengetahui sudah berapa lama kita membuka handphone dan sosial media. Dengan cara ini, aku bisa tahu rata-rata harianku bermain handphone
  • Memasang timer 1 jam di semua sosial media yang menjadi penggangguku, agar tidak kebablasan kalau main. Jadi saat buka sosial media pun aku harus memanfaatkannya untuk belajar sebaik mungkin.
  • Menggunakan teknik pomodoro— 25 menit bekerja, 5 menit istirahat. Aku biasa gunakan web ini LifeAt Virtual Spaces untuk menghitung otomatis timernya. Bisa juga pasang backsound loh biar fokus kita tetap terjaga.
  • Membuat to-do list dengan detail supaya waktu yang aku pakai benar-benar bermanfaat untuk produktifitas. Untuk cara ini aku masih pakai cara manual dengan nulis di kertas, ntah kenapa membuat di google calender justru bikin aku bingung hehe.
  • Mencari source belajar lain selain sosial media agar pengetahuanku terus update selain dari social media. Misalnya membeli buku, aktif bertanya di komunitas, dll.
  • Memperhatikan waktu bekerja agar seimbang antara aku bekerja dengan rehat sebentar.

Step 3: Test and Break🧵

Sudah list kira-kira apa saja solusi yang bisa kita terapkan? Saatnya eksekusi. Yang aku rasakan, di awal berat sekali harus LDR-an dengan sosial mediaku huhu. Tapi demi kebaikan diri, aku paksakan. Setelah menerapkan ini selama 2 minggu, aku evaluasi kembali yang sekiranya pasti bisa dilakukan tetapi perlahan untuk menerapkannya. Poinnya adalah, walaupun kita punya target dan ide yang bagus, tetap harus fleksibel. Kalau mau realis, hal-hal yang ditulis di atas ga selamanya bisa diterapkan sekaligus.

Contoh:

  • Aku masih suka kebablasan kalau lagi main gitar karna terlalu asik sendiri.
  • Ada meeting mendadak yang kadang membuatku capek setelah bertemu orang banyak, ku lampiaskan dengan bermain hape lebih dari 5 menit.

Menurutku intinya fleksibel sesuai kebutuhan kita. Keliatan seperti membangun habit baru, di awal susah sekali untuk mengubahnya. Tapi lama-lama pasti bisa kok. Karena membangun kebiasaan baru sendiri butuh waktu ga cuma 2–3 hari aja kan? Butuh waktu dan penyesuaian.

Step 4: Repeat🔄️

Sama halnya dengan design, ada proses iterasi agar design yang kita buat semakin baik dan berguna. Di tahap ini, aku coba evaluasi kira-kira solusi apa saja yang masih belum optimal tapi bagus untuk diterapkan. Dengan adanya fitur tracker di Android, itu berguna banget untuk aku mengevaluasi penggunaan handphoneku setiap hari. Sekitar 2 minggu sekali aku evaluasi kebiasaan baruku ini agar pelan-pelan bisa lepas dan ga kecanduan lagi dengan sosial media.

Nah, begitu kira-kira yang aku terapkan proses design thinking terhadap permasalahanku. Perlu diingat hal-hal tadi juga harus menyesuaikan usernya, yang di sini adalah aku sendiri. Mungkin kalian juga bisa menerapkannya jika ingin membangun habit baru. Misalnya rajin membaca buku, mempelajari design system, dll.

Jadi, gimana kalian menerapkan design thinking di kehidupan sehari-hari? Yuk sharing 😁

Ada feedback mengenai tulisan ini? Yuk diskusi di kolom response 😊

--

--

Write what I’ve learned. | linkedin.com/in/nurliategar

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store